Skip to HeaderSkip to PostSkip to Footer

Apa urgensi mempelajari dan mengkaji tafsir Al Qur'an terhadap pemahaman di bidang komunikasi dan penyiaran Islam?

Table of Content



    -          Dalam bidang komunikasi, menurut saya komunikasi adalah sesuatu yang rumit karena perlu adanya pemahaman antar satu orang ke orang lain secara lisan, kemudian komunikasi juga merupakan bahasa simbol, gerak, bahkan seluruh tubuh kita adalah bagian dari komunikasi. Artinya, apapun yang kita pakai merupakan komunikasi, mempunyai makna dan arti menurut kita, dan begitupun menurut orang lain. Dalam hal ini, komunikasi tidak bisa disederhanakan, sehingga perlu adanya tuntunan bagaimana komunikasi yang baik. Kajian tafsir dalam Al Qur’an memberikan pandangan yang begitu kompleks dalam satu ayat atau kaitannya dengan ayat lain, bahkan dengan metode dan corak tafsir yang berbeda. Sehingga tafsir bisa berbeda. Sebagai contoh, dalam pemahaman mengenai apakah wudhu batal saat antara laki-laki dan perempuan tersentuh kulitnya. Dalam beberapa kajian tafsir, yang saya temui ada 2 pendapat. Ada ulama yang membatalkan, ada juga yang tidak. Dalam hal ini, peran komunikasi dan metode atau kajian tafsir sangat diperlukan, lebih-lebih dalam lingkungan yang heterogen. Kita harus mampu menyampaikan perbedaan tersebut, tanpa harus menyinggung salah satunya.


    -          Kemudian terkait bidang penyiaran. Saya menemukan fakta bahwa ketika belajar ilmu tafsir, maka Islam bukan agama yang bisa dipermudah atau dipersulit, tapi Islam agama yang memberikan pilihan ke pada ummatnya. Tafsir memberikan gambaran bahwa, begitu tajam, dalam, dan luasnya pengetahuan para mufassir dalam menafsirkan suatu ayat. Sehingga, muncul perbedaan, namun perbedaan itu tidak lantas sebagai pembatalan suatu pendapat yang lain. Atau menjadikan pendapat yang lain haram. Fakta ini yang sadari ketika belajar tentang ilmu tafsir. Sehingga urgensi mempelajari dan mengkaji tafsir Al Qur’an kaitannya dengan bidang penyiaran sangatlah berguna, kaitannya dalam dunia penyiaran terutama penyiaran dalam bidang dakwah, akan memberikan kesan terbuka dan membuka diri terhadap pendapat yang lain. Penyiaran tidak satu arah, tapi menjadi berbagai arah, tapi tetap pada sumber Al Qur’an.

    Oleh : Yandi Novia

    Comments

    Post a Comment

    This is a comment message for you.